Bagaimana suara percikan yang mengenai materi tanah liat yang tertanam melindungi atap rumah.
Bagaimana harum tanah basah ketika sang fenomena alam usai.
Bagaimana nyanyian petir mengiringi para penari air dengan indahnya.
Bagaimana embun menjadi media lukis para bocah yang berada di bagian belakang kendaraan yang memadati tengah kota.
Bagaimana pertama saat seorang sosok itu terlihat dari sudut pandang seorang aku.
Bagaimana ketika reaksi yang terjadi saat dimensiku dan dimensinya bertabrakan adalah sebuah fenomena alam.
Bagaimana bila hujan menjadi sebuah ketidaksengajaan yang sering terjadi
Dan bagaimana keajaiban itu terjadi ketika seorang aku bertemu dengan seorang dia.
Salam untuk para manusia yang mengalami pengalaman indah semasa hujan.
Salam untuk para manusia yang mengalami pengalaman pahit semasa hujan.
Dan salam untuk kenangan-kenangan yang tercipta di kala hujan tiba.
Dan
salam untuk reaksi-reaksi serta perhitungan yang menciptakan dimensi
dari dua sosok manusia bertabrakan dan terjadi fenomena alam.
Dan
tidak lupa, terimakasih untuk hujan, yang selalu memberi inspirasi,
terdengar dari bisikan-bisikan perlahan yang tadi ia berikan saat saya
berjalan menyusuri tarian-tariannya saat itu.
Kalau petir datang, artinya ia sedang menyanyi, dan mereka menari.
Kalau awan hitam, bukan berarti dia sedang sedih.
Awan hitam hanya ingin eksistensinya bagi manusia, dan menggantikan matahari yang lelah berjalan seharian.
Jangan salahkan awan hitam, dia hanya ingin bermain bersama hujan.
Kalau awan hitam, bukan berarti dia sedang sedih.
Awan hitam hanya ingin eksistensinya bagi manusia, dan menggantikan matahari yang lelah berjalan seharian.
Jangan salahkan awan hitam, dia hanya ingin bermain bersama hujan.
Walau sepatu terendam genangan, walau kendaraan terciprat kotoran, walau aku harus membawa jaket hari ini.
Aku suka hujan, aku suka hujan dan aku suka hujan.
Walau kertas-kertas tugasku kebasahan, walau tulisan di bukuku luntur, dan wajahku tak karuan.
Aku tetap suka hujan, tetap suka hujan dan tetap suka hujan.
Aku suka hujan, aku suka hujan dan aku suka hujan.
Walau kertas-kertas tugasku kebasahan, walau tulisan di bukuku luntur, dan wajahku tak karuan.
Aku tetap suka hujan, tetap suka hujan dan tetap suka hujan.
Jadi jangan salahkan awan hitam.
Jangan salahkan peri-peri hujan.
Nikmati kemendungan, sama seperti kita menikmati matahari.
Nikmati petir, sama seperti menikmati alunan musik berdistorsi tinggi.
Nikmati hujan, sama seperti kita menikmati sore hari.
Jangan salahkan peri-peri hujan.
Nikmati kemendungan, sama seperti kita menikmati matahari.
Nikmati petir, sama seperti menikmati alunan musik berdistorsi tinggi.
Nikmati hujan, sama seperti kita menikmati sore hari.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar